Banjarbaru ‘Ditegur’ UN?

June 21, 2006

PENGUMUMAN hasil UN SMTA 2006 dimana Banjarbaru menduduki posisi ‘terbaik’ ketidaklulusan se-Kalsel membuahkan pertanyaan, ada apa dengan pendidikan Banjarbaru? Betapa tidak. Banjarbaru adalah kota yang didengungkan sebagai (akan) menjadi Kota Pendidikan, kog kelulusan UN 2006 menduduki posisi terbuncit se-Kalsel.

Setelah media cetak melansirnya, HP saya lincah berdering dan SMS silih berganti dengan pertanyaan: Kenapa UN siswa-siswa Banjarbaru jeblok? Ketika ke kampus hal senada diutarakan teman-teman dan berbagai analisis diapungkan. Semua menyesalkan. Apa jawaban saya?
Kesemua pertanyaan dan keluhan dijawab standar saja: ‘Begitulah kenyataannya’. Kalau faktanya demikian, buat apa berkilah, mencari alasan ini-itu. Justeru seharusnya dimaknai sebagai introspeksi untuk berbuat lebih baik dan lebih nyata. Ibarat main bola, jangan sampai kekalahan di suatu pertandingan berakibat frustasi dan membubarkan kesebelasan.

Saya pun tidak berkilah. Misalnya berapologia, apa urusan saya, memangnya pejabat Dindik Banjarbaru? Secara formal tidak punya urusan. Selama ini, paling-paling melontar gagasan. Sebagai akademisi bersama teman-teman dalam kolaborasi dengan LPMP Kalsel baru melakukan survey awal untuk menapak gerakan peningkatan kualitas pendidikan Banjarbaru 2007. Itu pun ‘dicurigai’ dan ditendang sebagian orang he … he … Berkontribusi saja susah.

Tapi, sudahlah. Ke depan ‘melihat’ Banjarbaru sangat-sangat mungkin menjadi ‘pusat’ kualitas pendidikan Kalsel. Kalau sekarang, sesuai pengajaran ESQ Training yang saya sukai: Jangan Berkilah.
Minimal, kenyataan tersebut menjadi lecutan agar berbenah diri, ada something wrong. Minimal ada yang kurang, yang perlu diperbaiki. Sikap seperti ini penting jadi pegangan, tidak saja bagi Dindik Banjarbaru, tetapi juga bagi elemen terkait. Dalam berpikir terbalik, selayaknya ‘bergembira’, posisi kita saat ini di titik ini, tujuan kita ke titik itu, diskravensinya sekian, untuk itu kita perlu melakukan a, b, c, d dan bla bla.
Jujur pada capaian adalah modal dasar bagi kompetisi konstruktif ke depan, berkilah adalah kedunguan apologia. Mencari-cari alasan, mengumbar berbagai pembenaran atau mencari kambing putih, adalah kekeliruan yang bisa mencederai asupan bagi carian solutif untuk perbaikan. Hemat saya, pepeduli pendidikan Banjarbaru menajak kaki pada posisi demikian.

Musuh Bersama
Sebenarnya, kalau paham konstruksi UN untuk menyiasatinya gampang saja. Misalnya, di sekolah-sekolah cukup diajarkan mata pelajaran yang diujikan, pelajaran lain abaikan saja. Atau, pembelajar konsentrasi pada mata pelajaran yang diujikan lalu fokuskan ke latihan soal-soal. Dijamin hasilnya akan yahud. Kalau mau jalan pintas, lebih gampang, guru-guru (pengawas) ikut ujian atau membagikan jawaban. Gampang. Tetapi, itu sangat tidak edukatif. Mudah-mudahan tidak satu orang pun yang berpikir demikian.
Sekalipun dalam kaca pandang nasional, saya tidak menentang UN, sebab dengan UN kita dapat ‘melihat’ peta pencapaian pendidikan nasional. Hanya saja, setelah UN dilaksanakan, tindak lanjutnya apa. Misalnya, untuk daerah yang fasilitas, sarana dan prasarana kurang, perlakuan apa yang dibijaki pemerintah? UN terus berlangsung tiap tahun tanpa ada tindak lanjut berarti.

Secara esensial, UN merusak hakekat pendidikan. Kelulusan hanya ‘ditentukan’ oleh beberapa mata pelajaran. Pertanyaannya, apa fungsi mata pelajaran lain dalam kesatuan pendidikan secara umum? Kalau ceritanya demikian, kalau sekedar untuk lulus UN buat apa belajar beragam pelajaran. Kini korban mulai berguguran. Mudah-mudahan, siswa-siswa pandai, tetapi misalnya tidak berminat pada mata pelajaran tertentu, tidak lulus, menuntut Depdiknas dan BSNP. Sudah saatnya jalur hukum dimanfaatkan untuk kebijakan yang secara esensial tidak tepat.

Di atas semua itu, sebaiknya yang dibangun adalah sistem yang sesuai dengan kondisi obyektif daerah. Dalam hal ini, Banjarbaru tidak usah bersedih dengan ‘teguran’ UN. Hasil UN 2006 jelek, akui saja. Jangan pernah berkilah atau, sekali lagi, mencari kambing putih plus mempersalahkan ini-itu, Si Anu, Si Ana atau Si Ane. Mari rapatkan barisan, bulatkan tekad, capaian jelek adalah musuh bersama.
Hanya saja, perlu diresapi, misalnya untuk fasilitas sekolah (maaf kalau salah), sekolah-sekolah di Banjarbaru secara fisik relatif lebih baik. Nah, kalau dibanding sekolah-sekolah yang lebih memprihatinkan hasilnya lebih jelek, perlu pertanyaan dihujamkan, salahnya dimana? Ini menjadi PR bagi semua pihak.

Membangun Sistem
Menurut amatan saya, keseriusan Pemko Banjarbaru membangun fasilitas sudah on the track. Apatah lagi mulai tahun 2007, minimal begitu yang saya tangkap dari berbagai pernyataan dan tekad Rudy Resnawan, kualitas pendidikan akan dijadikan pusat perhatian. Kalau hal ini terlaksana, naga-naganya tidak perlu terlalu bersedih. Kepedihan saat ini dapat dijadikan modal untuk berbuat lebih baik ke depan.
Satu hal yang perlu dibenahi adalah soal data. Sepengetahuan saya, kini data tentang kondisi ril sekolah-sekolah sudah lebih valid. Dindik Banjarbaru bersama LPMP Kalsel sedang mengupdate data-data guru. Tinggal melakukan ‘penilaian’ tentang guru. Kalau data fisik, guru, sarana pendukung dan sebagainya terpetakan secara baik, educational mapping akan menjadi pijakan bagi upaya peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan tidak bisa dilakukan secara instan.

Pada bulan Mei 2006, dalam kerjasama Dindik Banjarbaru dan LPMP Kalsel dilakukan ujian kompetensi guru SD se Banjarbaru. Terlepas dari konstruk instrumen, minimal LPMP memilih 40 orang guru SD terbaik untuk dilatih guna ‘disebar’ ke gugus sekolah menjadi pioner peningkatan kualitas PBM. LPMP siap dengan program dan biayanya. Gerakan nyata sangat sistemik.

Sedikit bocoran, dari 600-an guru yang diuji (maaf) tidak berapa orang yang capaiannya tembus di atas posisi angka 60 dari skala 100. Artinya, menurut versi uji kompetensi LPMP, ‘kualitas’ guru perlu ditingkatkan. Alhamdulillah, setelah dilatih tersaring 18 dengan hasil bagus. Saya terperangah pada ranah afektif 18 orang mencapai A dan kinerja guru cukup menjanjikan, padanan nilai pretes dan postes signifikans. Ke depan, mudah-mudahan Dindik dan LPMP melebarkan ke uji kompetensi guru-guru tingkat SMTP dan SMTA.

Maksud saya, upaya peningkatan harus didahului dengan data-data yang validitasnya teruji. Upaya itu harus terus-menerus, terencana dengan sistem setahap demi setahap. Kompetensi guru tidak bisa dimaknai dengan ‘tebak-tebakan’, misalnya berdasarkan asumsi dia sarjana anu, mengajar puluhan tahun, karena itu pasti kompeten. Tetapi, melalui uji ril. Kalau hal ini dilaksanakan, Insya Allah ke depan hasilnya akan bagus dan … kualitas yang dicapai bukan kualitas instan.

Kota Pendidikan
Satu hal yang perlu dicermati dan disadari, hasil UN 2006 bukanlah lonceng kematian, tetapi tidak lebih agar berbenah diri. Jangan ada lagi yang membusungkan dada bahwa ‘pekerjaan’ kami sudah hebat, upaya kami sudah maksimal dan atau berbagai pembenaran lainnya. Begitu juga, mencari akarnya pada lain subyek semisal yang diujikan hanya mata pelajaran tertentu. Kalau sistem berjalan baik, apapun yang diujikan hasilnya pasti bagus. Konstruk ujian dimanapun di dunia, pada bidang apapun, pastilah ‘sebagian kecil’ dari apa yang dipelajari atau dipahami.

Karena itu, kalau kualitas satu jenjang pendidikan baik, apabila diujikan secara acak bidang atau bagian mana saja, hasilnya juga akan baik. Kalau misalnya yang diuji adalah yang dipahami, yah buat apa ujian? Pendidikan dalam hal ini bermakna komprehensif dan ujian adalah pilihan acak untuk menggali pemahaman komprehensif. Kalau tidak salah, begitu esensi evaluasi pendidikan.

Akhirnya, mudah-mudahan saja ‘teguran’ UN menjadi motivasi bagi seluruh pihak agar Banjarbaru Kota Pendidikan tidak goyah dalam pewujudannya ke depan. Satu hal lagi, kualitas pendidikan tidak ibarat membuat serabi dimana apabila dilakukan proses pembuatan hasilnya dapat dilihat dan dirasakan dalam waktu singkat. Pendidikan adalah usaha berkelanjutan tanpa henti, terus-menerus. Sedikit lengah akan langsung berdampak terhadap kualitasnya. Kira-kira begitu.

Bagaimana menurut sampeyan?

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://ersis.blogsome.com/2006/06/21/p5/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Order Silagra
Discount online pharmacy offering online prescription medication
www.luckypharmacy.com

Generic Florinef
FDA-approved prescription drugs, quick shipping, and free secure online medical consultations.
www.luckypharmacy.com

Purchase Caverta
Largest OnLine Pharmacy and Health information Website
www.luckypharmacy.com

Ads by PharmaCity!