PSB dan Iskandar Zulkarnain

July 11, 2006

UN SMTP/SMTA 2006 telah berlalu dengan segala eksesnya. Kini anak-anak bangsa, generasi muda kita, penerus bangsa ke depan, tengah berjuang ‘menentukan’ pilihan tempat belajar di tingkat berikutnya. Pergelutan merebut bangku belajar di negeri kaya raya yang miskin ini bak ibarat perang saudara. Siapa ‘kuat’ (hebat) lebih mungkin merealisir idaman. Semakin miskin, tidak punya akses, bukan tidak mungkin akan ‘terlempar’ ke sekolah yang tidak diidamkan. Lembaga pendidikan swasta, mau tak mau, makin nyata menempati kasta kedua.

Konsep pengakuan sama terhadap sekolah negeri dan swasta terabaikan secara alamiah. Siswa dengan nilai tertentu untuk pertama memilih sekolah negeri, kalau lepas, baru ke sekolah swasta. Diskriminasi ‘praktek legal’, tetapi mengabaikan prinsip persamaan, terpampang di depan mata. Tetapi, Saudara, dapat dipastikan, pengelolaan pendidikan akan terus bergulir sesuai iramanya.

Kalau ditinjau dari konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), minimal kalau Sampeyan pernah membaca, apalagi memahami, bukan saja soal UN tetapi PSB adalah balikan MBS. MBS lahir dari rahim inovasi sekolah (buttom up) di Inggris, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Hongkong dan seterusnya. Di Indonesia ketika Malik Fajar menjadi Mendiknas, seolah-olah akan dijadikan konsep penyelenggaraan pendidikan nasional dalam memicu kualitas pendidikan, kini nampaknya semakin abu-abu dalam praktek.

Yang lebih menyedihkan, kebijakan bagaimanapun dari birokrat pendidikan, selama republik ini ada, nampaknya menjadi kebenaran. Kalau misalnya, dokter melakukan malpraktek atau insinyur salah perhitungan dan bangunan roboh, jalur hukum bisa ditempuh. Bagaimanapun penyelenggaraan pendidikan, jarang kita mendengar atau membaca, penangung jawab (birokrat pendidikan) disehadapkan dengan sanksi hukum.

Anehnya, dengan sistem (praktek) pendidikan yang carut marut, mutu terpuruk, masih ada saja birokrat pendidikan dan pendidik yang membusungkan dada, kualitas pendidikan menaik tajam. Mereka beranggapan kesuksesan telah diraih berkat kerja keras. Luar biasa.

Salut Buat Pak Zul
Dalam pada itu, pernyataan Kadindik Banjarmasin, Iskandar Zulkarnain, bahwa dia minta dicopot sebagai Kadindik karena PSB camuh dan kalau tidak bisa diatasi, sungguh bernilai tinggi dalam pengertian, pejabat harus betaggung jawab atas kebijakannya. Saya tidak kenal dia, tetapi ketika tampil di TVRI Kalsel, sangat tertarik ide-idenya. Terlepas dia berasal dari rumpun alumnus LPTK atau bukan, sungguh salut. Suguhan tekad, birokrat pendidikan tidak sembarangan mengambil kebijakan.

Bagi saya ‘sikap’ Zulkarnain bak pelepas dahaga ketika kehausan di gurun pasir. Entahlah, apakah akan bergulir bak snowball atau hanya hingar-bingar sesaat, waktulah yang akan menjadi bukti faktualnya. Yang ingin saya sampaikan, sudah waktunya kita berpikir, birokrat pendidikan lebih bertanggung jawab atas segala kebijakannya.

Harap dicatat, kualitas pendidikan kita sangat memalukan, dan yang mengurus birokrat pendidikan, hasil rilnya seperti kita pahami. Kalau dengan passing grade 4,5 saja keteter bagaimana akan meniru Singapura dan Malaysia dengan patokan 7. Dengan Vietnam yang baru dilululantakkan perang saja kalah. Indeks HDI kita kalah jauh.

Seorang teman sampai kesal, bagaimana mungkin, ada birokrat pendidikan yang berkehidupan lebih dari cukup —tapi bukan di banua— sementara fasilitas pendidikan di lingkungannya parah dan payah. Rumah-rumah atau mobil dinas seolah mencibir sekolah yang mau roboh. Kalau bicara fasilitas sampai kualitas, pihak lain yang salah.

Saya sampai bersilancar di internet, dari 36 Mendiknas yang kita punyai, waduh siapa sih yang berbasis akademik pendidikan? Kalau dilanjutkan ke Kadindik sampai jajaran bawahnya, hal serupa akan terlihat. Di Bappeda saja, sebagai perancang pembangunan, sekalipun pendidikan di urutan satu prioritas, jarang yang berbasis pendidikan. Lalu, bagaimana perencanaan pendidikan akan tajam kalau dirancang oleh mereka yang bukan ahlinya.

Hadis Nabi Muhammad SAW, kalau pekerjaan tidak diurus ahlinya, tunggulah kehancuran. Kecuali, kita tidak mempercayai hadis Nabi Muhammad SAW, silahkan saja. Tetapi masalahnya memang tidak sederhana, sebab berbagai faktor membalutnya. Sangat bijak untuk sepuluh tahun ke depan jadi catatan Pemerintah Pusat, Pemprov, Pemko dan Pemkab.

Kalau di instansi pemerintahan ada program S2 untuk aparat, apa salahnya sih, 10% di sekolahkan ke LPTK? Siapkan kader untuk 5-10 tahun ke depan dengan serius. Opini ini juga bukan ‘menolak’ teman-teman birokrat pendidikan yang alumnus non-LPTK. Saya bicara soal persiapan SDM. Bisa saja orang-orang non-LPTK, misalnya seperti Zulkarnain yang inovatif. Tetapi, kan harus berpikir dan belajar lebih mantap. Artinya, diperlukan waktu untuk berbenah diri. Kalau mau effisien, tidak ada salahnya dipersiapkan dengan sengaja.

Evaluasi
Kepada Zulkarnain saya mengusulkan satu hal. Kalau hingar-bingar PSB sudah reda, mumpung Sampeyan punya otoritas, tolong satu hal. Di daerah lain, ada indikasi kecurangan UN dimana sekolah membentuk ‘Tim Sukses’. Di banua sampai sejauh ini belum didapat bukti sekalipun ada rummor. Tolong dilakukan kajian ilmiah. Maksudnya begini.

Hasil UN mengembirakan banyak pihak dalam pengertian tingkat kelulusan dan capaian hasil prestasi belajar menaik. Fakta lainnya, banyak sekolah-sekolah pinggiran atau yang dianggap ‘anak bawang’ prestasinya bagus. Teliti sekolah-sekolah tersebut, kalau tingkat kelulusan dan prestasi belajar baik karena sistem yang diterapkan bagus, jadikan contoh. MBS diadopsi dari inovasi sekolah-sekolah di negara maju, bukan dari kebijakan nasional pendidikan.

Tapi, kalau prestasi mencengangkan tersebut karena ulah Tim Sukses seperti di Banten dan daerah lain yang tengah diselidiki, perlu diberi sanksi siapa saja yang terlibat. Jangan Sampeyannya yang mundur, tetapi yang melakukan kesalahan. Hal ini penting, karena saat ini pemerintah semankin sadar dan mulai menancapkan tapak-tapak emas pendidikan yang perlu didukung dengan kajian ilmiah.

Coba bayangkan, siswa-siswa yang lulus dengan nilai baik, karena sistem PSB Banjarmasin sangat meritokrasi (itu yang dilakukan Jepang), masuk sekolah terhebat, dan ternyata nilainya didapat dengan haram, akan berakibat fatal bagi peserta didik itu sendiri. Lagi pula, otomatis mengahancurkan bagun sistem. Bukan tidak mungkin, yang diterima di sekolah terhebat adalah mereka yang terkatrol. Bayangkan bagaimana kualitas bangsa ini ke depan (mudah-mudahan tidak).

Lebih parah lagi, kalau misalnya anak-anak bangsa yang menempatkan posisi pendidikan bagus dan nanti menjadi aparat pemerintah, pemimpin perusahaan, atau tokoh masyarakat, akan ada efek psikologis dalam memandang kecurangan. Coba, ketika harus mengambil kebijakan … wah gua bisa begini karena dulu diselamatkan sistem yang korup, sistem curang. Apa tidak bahaya kalau menjadi kenyataan.

Kalau sejak dari bangku sekolah sudah dipasok dengan kecurangan, dari hasil kecurangan, sungguh susah mencari istilah yang pas. Siapa saja yang paham esensi pendidikan akan ngelangsa manakala guru, kepala sekolah, atau siapa saja, berjamaah bercurang ria demi gensi, demi kelulusan anak didiknya. Bukan jeruk makan jeruk, tapi koruptor pendidikan menitip jurus-jurus sukses korupsi dalam mendidik sikap korup.

Mudah-mudahan para pelibat pendidikan di banua tidak sedemikian. Gagasan saya, kalau punya data, ke depan lebih waspada. Pemakaian IT di PSB Banjarmasin adalah terobosan inovatif-positif. Jangan pernah melangkah surut, anak-anak kita nantinya akan hidup sangat IT-minded, lanjutkan saja. Persiapannya saja yang dimatangkan, dan … itu pekerjaan gampang ditinjau dari kecanggihan IT. Gara-gara hal sepele itu Pian mundur, kada iluk jua Pak ai.

Jangan, sekali-kali jangan. Membenahi lebih penting. Kesalahan-kesalahan awal adalah inti dari eksprimen. Dalam dunia ilmiah ada yang namanya trial and error. Tapi, kalau error meluluh, keledai namanya. Selamat melakukan inovasi ril praktek pendidikan. Kekurangan adalah hal wajar.

Titipan terakhir saya, dari bacaan media cetak atau simakan media eleketronik nasional, Tim Sukses sebagaimana dilansir adalah Tim Sukses Dosa (?). Di banua mari kita siapkan Tim Sukses dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang halal menyongsong UN 2007 (kalau tidak dilikuidasi pemerintah dan DPR RI). Melakukan praktek halal adalah indah dan bermanfaat. Dan, … kunci kemajuan (kualitas) pendidikan adalah kemampuan melakukan inovasi. Selamat melangkah.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Ersis Warmansyah Abbas, dosen FKIP Unlam, website: ersis.blogsome.com., email: ersis_wa@yahoo.com.

Singapura: Little India Walking Tour

May 1, 2006

EWA sedang berada di salah satu stasiun MRT di Singapura.

SINGAPURA tak pelak lagi negara ‘seupil’ yang mendunia. Nampaknya, apa saja dimanfaatkan maksimal, apabila bernilai ekonomis. Dibeking kesadaran sebagai negara yang tidak memiliki SDA, menumpukkan pembangunan dan masa depan kepada SDM. Tidak mengherankan, walaupun tidak mengetahui ‘jeroan’ Singapura, selintas saja dapat disimpulkan, rakyat Singapura adalah pekerja keras.

Kesan lainnya, orang Singapura sangat mengandalkan hidup mengurus diri sendiri. Jangan coba-coba bertanya ini-itu seperti di Indonesia, apalagi mimpi diantar ke alamat yang dituju. Berjalan saja mereka seperti kesetanan, terkesan selalu diburu waktu. Untungnya, apa saja —terutama untuk kepentingan turis— disajikan lengkap dengan petunjuk jelas. Orang Singapura hidup sangat praktis.

Coba saja, nampaknya mereka tidak memerlukan polisi dimana-mana sebagai ‘pelindung’ rasa aman. Gedung atau perkantoran tidak ‘diamankan’ Satpam atau Satpol PP, bahkan bangunan-bangunan tidak berpagar. Saya mencari-cari mobil fasilitas buat aparat pemerintah seperti plat merah di Indonesia, e … tidak terlihat. Bayangkan hematnya pengeluaran pemerintah dan … seolah semua hal difokuskan untuk publik.

MRT Murah Nyaman

Alkisah, begitu selesai urusan di pabean Singapura di pintu masuk HarbourtFront, captaint tour Asia kami, Erwin DN, mengeret ke stasiun MRT (mass rapit transport) di kompleks yang sama. Menumpang ekskalator turun sekitar 10 meter di perut bumi, ada malahan yang mungkin 20 meter, menuju MRT, sejenis kereta api mini dengan kecepatan ‘pesawat terbang’ dan sangat nyaman ditumpangi. Saya tidak bisa mengukur jarak, karena serba cepat. Pintu MRT terbuka dan tertutup otomatis dalam 5 menit.

Kami melewati Qutrom Park, Chinatwon, Clark Quay dan stop di Dhoby Ghaut, sentral MRT. Lalu, ke permukaan. Plaza Singapura terpampang dengan kompleks perbelanjannya. Kemana saja, kita seolah disuguhi, hotel, mall, taman-taman indah, kapling berjalan kaki dan sejenisnya. Menghirup udara bebas —di bawah tanah serba AC— kami segera mencari ruang terbuka, merokok. Rokok terasa begitu nikmat.

Sekedar catatan, jangan coba-coba merokok di MRT, di Mall dan tempat yang ada tanda no smoking, yang ada tempelan by law. Menang tidak ada petugas tapi hidden camera akan merekam dan bila berurusan dengan penegak hukum, bayar denda SGD5000 (Rp.27.500.000,00) atau penjara. Saya tidak menemukan pelanggar.

Oh ya, di HarbourFront kami membeli Tiket MRT SGD10 (Rp.55.000) cukup untuk naik MRT dan bis selama di Singapura. Murah meriah. Nampaknya ini cara pemerintah Singapura memberi kemudahan mobilitas warganya dan turis. MRT mempunyai empat lini yaitu: North South Line, East West Line, North East Line dan LRT Line. Lini itu menyangkau Singapura dengan ujung cabangnya, HarbourtFront dan Marina Bay (Selatan), Changi Airport dan Pasir Ris (Timur), Punggol, Khatip, Sembawang, Woodlands (Utara) dan Boon Lay (Barat).

Kalau di bawah tanah ada MRT, di permukaan moda transportasi publik adalah bus, dari tingkat sampai gandengan. Karcisnya jadi satu dengan MRT dan murah. Seorang teman yang kalau ke kampus Banjarmasin pakai taksi, minimal menghabiskan Rp.30.000 dari Banjarbaru pergi pulang. Sungguh mahal. Kalau pakai mobil, dalam seminggu enam kali ke kampus, untuk bensin, merogok kocek 6XRp.50 ribu berarti Rp.300 ribu alias sebulan Rp.1.200.000,00. Habis separoh gaji sebagai dosen. Kalau ditambah ongkos komunikasi, puasa dech kite.

Artinya, gaji sebagai PNS untuk tranpostasi dan komunikasi. Tentu karena penanganan sarana tranportasi publik kita memang payah. Dalam hal ini, siapa bilang hidup di Singapura mahal. Mereka cerdas menyiasati hal mendasar warganya. Kalau ceritanya demikian, sangat mustahil para PNS bisa beli rumah, menyekolahkan anak, membeli mobil apalagi punya gendak, kecuali … Tapi, faktanya para PNS kita banyak saja yang hidup lebih dari cukup he … he …
Walking Trip Country

Hal lain yang asyik di Singapura, tempat dan para pejalan kaki, sungguh diistimewakan. Jalan-jalan Singapura itu kecil saja. Dibandingkan dengan di Jakarta atau Surabaya, bahkan di Banjarbaru hampir sama saja. Bedanya, aspalnya kelas satu —di Malaysia juga sedemikian— sangat bersih dan trotoar untuk pejalan kaki sekitar 5 m. Nyaman dijalani. Katakanlah keramiknya sekelas Esensa, no tile no like it. Kalau ketertiban, tidak menarik untuk ditulis karena disiplin warga Singapura terkenal sudah.

Berjalan di sepanjang trotoar Singapura saya teringat pidato seorang pejabat, tentang K5 (kaki lima). Konon, katanya K5 karena pedagang kakinya dua ditambah tiga roda gerobak. Dasar tidak pernah baca. Kenapa?

Menurut literatur, Raffles adalah pejabat kolonial (Inggris) yang sangat peduli dengan wilayah publik. Raflles itu hobi bikin jalan. Di Indonesia, jalan dari Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 km di pulau Jawa adalah gagasannya. Kalau di kota, di pinggir jalan dibuat trotoar untuk pejalan kaki selebar 5 kaki (foot, ukuran Inggris). Orang-orang Indonesia memanfaatkan untuk berdagang. Dari situlah muncul istilah pedagang K5. Menjelajah Singapura, saya bisa memahami filosofi Raffles.

Kegiatan rutin kami, ya jalan kaki, terutama untuk jarak pendek. Sekembali dari hotel, pada hari pertama, setelah naik bis dan makan-makan di Orchad Road kami jalan kaki ke hotel. Pada malam kedua, ke Little India, kawasan orang-orang India sekedar mencari kopi. Duh … Mak, kami jadi terseok-seok. Besoknya, sehabis ke Sultan Mosque dan sholat di kawasan Arab, jalan kaki ke Bugis Junction e … sepatu seorang kawan yang menganga sejak di Little India menemui ajalnya. Terpaksalah kawan kita membeli sepatu baru. Singapura dirancang sangat berpihak bagi pejalan kaki.

Raffles Hotel-Esplanade

Ersis berfoto bersama kepala jaga Raffles Hotels, B. Sing

Sejak dari Banjarbaru, saya menandai Hotel Raffles, National Library, Esplanade dan Merlion Park untuk dikunjungi. Dari Strand Hotel, Bencoolen Street, kami naik bis 10 menit ke Bras Basah Street ke Raffles Hotel. Sepuasnya kami mengelilingi hotel yang dijaga polisi Singapura. Harap maklum, ini hotel tempat menginap orang-orang penting.

Kami sangat beruntung kepala jaga, B. Sing, mengizinkan mutar-mutar, bahkan berfoto dengannya dan polisi Singapura. Pak Sing hapal petinggi-petinggi Indonesia yang menginap, dari Sukarno sampai SBY. Tentu tidak lupa melihat sejarah perjalanan Rafless Hotel yang ditayangkan di marmar terpahat di dinding hotel. Pengalaman ‘membaca’ buku-buku sejarah dipatri dengan melihat langsung.

Saya pikir inilah salah satu surga Singapura. Sebelumnya kami sempat mengunjungi National Library Singapore yang membuat hati terenyuh bila ditulis. Betapa tidak, dengan gedung menjulang, pasilitasnya sungguh lengkap. Bahkan, di ruang bawah tanah mereka menanam pohon. Buku-buku sampai internet tersedia gratis. Sungguh sorga untuk studi. Kunjungan ke National Library Singapore melengkapi ‘pusing-pusing’ kami sebelumnya ke kawasan Waterloo dimana terdapat Singapore Art Museum dan aneka musium lainnya. Luar biasa.

Setelah puas di Raffles Hotel kami berjalan kaki menuju Raffles Aveneu di bibir Marina Bay. Menyeberang Bras Basah Road sampai di War Memory Park, berfoto lalu ‘menyelam’ ke bawah Esplanade Brigde. Di bawah jembatan tersebut yang dibuat sedemikian rupa, kami menemukan seniman latihan drama. Muncul ke permukaan disambut Esplanade Theatres On The Bay.

Karena waktu sempit, tidak semua ruangan terdatangi, tapi untung leaftlet kami dapatkan. Lalu, duduk-duduk sembari memandangi Merlion Park dengan patung Singa yang terkenal tersebut. Sehabis itu mendatangi Lim Bo Sang Memorial dan terus ke Victoria Theatre and Empress Place. Bambang kesal karena petugas mengatakan tidak boleh menonton tersebab pergelaran telah dimulai, kami terlambat.

Disini terdapat Asian Civilisations Museum yang secara rutin mementaskan aneka budaya Asia. Beruntunglah kami dibiarkan ‘meramahi’ apa yang dapat dinikmati. Setelah itu memutar Singapore River yang terkenal dengan aneka makannya. Yang paling menyenangkan mampir di RM Padang Sari Bundo, duh nikmatnya. Capek berjalan kaki dapat makanan yang pas dengan selera.
Di Singapore River saya ‘mengerjain’ orang Singapore. “Please Sir, no pork. Halal”, katanya agar mampir di restorannya. “Nah lo’, jawab saya, “justeru kami mencari makanan dari babi”. Dia ngakak seperti juga kami ngakak. Asyiknya di Singapura bahasanya gado-gado. Bahasa Inggris, lalu ke Melayu, Mandarin dan terkadang India. Tapi, rata-rata menguasai bahasa Melayu dan … rupanya bahasa Indonesia tidak asing. Tidak heran, orang Indonesia memang suka melancong ke Singapura.

Jadi jangan takut, komunikasi di Singapura tidaklah akan mengendala. Unggulnya Singapura karena serius membenahi apa saja. Kalau soal alam dan tanah, Indonesia jauh lebih potensial. Bayangkan, Singapura itu dengan lautnya hanya kira-kira dua kali Banjarbaru. Mari meniru Singapura untuk hal-hal tertentu, tetapi lebih banyak yang lebih baik di Indonesia. Pasti itu.

Bagaimana menurut sampeyan?

Ersis Warmansyah Abbas, presiden LPKPK dan dosen FKIP Unlam.


Order Silagra
Discount online pharmacy offering online prescription medication
www.luckypharmacy.com

Generic Florinef
FDA-approved prescription drugs, quick shipping, and free secure online medical consultations.
www.luckypharmacy.com

Purchase Caverta
Largest OnLine Pharmacy and Health information Website
www.luckypharmacy.com

Ads by PharmaCity!